Kemenpora RI Dukung Pramuka Masuk Kurikulum Meredeka

Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mensosialisasikan Kurikulum Merdeka pada Pendidikan Anak Usia Dini, jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah melalui Forum Tematik Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) dengan tema “Kurikulum Merdeka untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran”.

Melalui forum yang diselenggarakan pada Senin (27/5) di Hotel Le-Meridien, Jakarta Pusat, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendorong pola pendidikan Kepramukaan dapat mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang dirancang juga dengan prinsip pengembangan karakter yaitu menekankan pada kompetensi spiritual, moral, sosial, dan emosional murid, dimana termasuk di dalamnya usia pemuda. Tentu hal itu sangat penting untuk proses pembentukan karakter pemuda menuju bonus demografi di Indonesia dan meningkatkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). 

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo menyatakan adanya wacana memasukkan pola-pola pendidikan kepramukaan dan perangkat ajarnya ke dalam Kurikulum Merdeka, “Pengembangan karakter seperti kompetensi moral-spiritual, sosial, dan emosional tidak hanya melalui mata pelajaran, tetapi juga melalui alokasi waktu khusus untuk pembelajaran yang aplikatif dan kolaboratif, seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau yang dikenal P5,” ujar Anindito Aditomo atau yang kerap disapa dengan sebutan Nino.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Dito Ariotedjo pada Pelantikan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka, telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kemendikbudristek sehingga Pramuka tetap menjadi bagian penting dari ekstrakurikuler wajib di sekolah. 

“Menurut saya masuknya pramuka kedalam kurikulum Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka akan memberikan poin tambahan pendidikan kepada mahasiswa. Justru ini akan memperkuat gerakan Pramuka dan akan menaikkan minat anak muda kita ikut Pramuka,” ucap Menpora Dito.  

Mendukung Menpora, Nino menegaskan, terkait dalam peraturannya, sangat jelas bahwa Pramuka menjadi kegiatan yang wajib di sekolah, “Pola-pola pendidikan kepramukaan, termasuk modul-modul dan perangkat lainnya yang di pramuka itu sudah sangat kaya. Beragam sekali minat dan bakat murid yang dapat difasilitasi dan diakomodir melalui berbagai macam ekstrakurikuler termasuk ada Pramuka di dalamnya,” papar Nino dalam penekanannya bahwa P5 merupakan program dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila kepada pelajar Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Aswin Wihdiyanto menambahkan bahwa Kurikulum Merdeka diluncurkan untuk memperkuat peran serta dan gotong-royong seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas bagi seluruh anak Indonesia. 

“Kurikulum ini sekaligus sebagai jawaban berbagai tantangan zaman dan isu terkini seperti penguatan karakter, perubahan iklim, berbagai bidang literasi murid sebagai satu alat bantu utama untuk melakukan transformasi pendidikan dan mewujudkan sekolah yang dicita-citakan bangsa Indonesia, khususnya pada progres pembentukan karakter para murid,” jelas Aswin saat memaparkan bagaimana peran Kemendikbudristek menggandeng masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan implementasi Kurikulum Merdeka.

Hadir dalam kegiatan Bakohumas Kemendikbudristek selain para anggota Bakohumas yang berasal dari humas pemerintah di Kementerian dan Lembaga, juga turut hadir Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti, Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Hasyim Gautama, dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Putra Asga Elevri. 

author avatar
satriasamudra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *