oleh

Sugeng Handoko Pemuda Desa Sulap Tanah Kering Menjadi Ekowisata

Biuus.com, Jakarta  –  Sugeng Handoko pemuda asal Desa Nglanggeran Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, merubah daerah kering menjadi desa ekowisata yang banyak dikunjungi wisata lokal maupun internasional.

Sugeng Handoko adalah anak asli desa setempat yang berjuang demi perubahan tanah kering menjadi ladang basah bagi warga sekitar.

Sugeng mengungkapkan ada 3 tahapan besar yang dilakukannya dalam menjalankan dan mengembangkan pariwisata di Desa Nglanggeran.

Pertama Sugeng Handoko mengenali pontesi apa saja yang bisa dikembangkan ditanah kelahiranya supaya terwujudnya desa ekowisata.

Kedua tak lupa dia melihat SDM yang ada didesanya, selama 3 samapai 4 tahun dia selalu memberikan arahan dan pembelajaran tentang desa ekowisata ke masyarakat desanya sampai siap bergerak bersama untuk membangun desa ekowisata.

Ketiga Sugeng pun mengungkapkan untuk membangun desa ekowisata tidak bisa bergerak sendiri, sehingga dia dan masyarakat desa melakukan kolaborasi dan kerja sama dengan pihak luar termasuk membangun identitas digital.

Gunungkidul dulu sangat terkenal dengan daerah tertinggal, Sugeng pun menceritakan ada beberapa permasalahan salah satunya adalah masyarakat yang sering menebangi pohon dan mengambil batu untuk dijual, karena daerah Gunungkidul terkenal dengan batu kapurnya dan masih lebatnya hutan jati. Hal tersebut diakuinya berdampak langsung pada kerusakan alam lingkungan di wilayahnya.

Mengangap beberapa alasan itu, Sugeng yakin dengan memberikan edukasi, konservasi dan pemberdayaan masyarakat bisa membuat desaya menjadi “Desa ekowisata”. Sementara untuk kelembagaanya, Sugeng bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memberikan edukasi kepada masyarakat dan wisatawan.

Dijelaskan Sugeng, dahulu banyak wisatawan yang datang ke Gunungkidul sekedar tracking, naik gunung, bersuafoto lalu pulang. Ia melihat hal tersebut sebagai peluang bisnis, oleh sebab itu dirinya mulai serius menekuni mulai dengan memfasilitasi kegiatan malam akrab (Makrab) mahasiswa sekitar 50 sampai 80 orang.

Terkait dengan kebutuhan modal untuk pengembangan wisata di wilayahnya, gotong royong warga di desa masih sangat tinggi.

Sementara itu, cara lain yang dilakukannya adalah dengan aktif di tiga hal, seperti  lingkungan, kepemudaan dan pariwisata berbasis masyarakat.

Sugeng kerap mengikuti kompetisi yang diikutinya seperti Karang Taruna berprestasi, pemuda pelopor dari Kemenpora, dan dari BUMN ada wirausaha mandiri yang berhasil raih Rp300 juta yang digunakan untuk modal. 

Sugeng berpendapat untuk menjalankan konsep pariwisata yang berkelanjutan, kuncinya adalah semua elemen di desa harus bahagia seperti masyarakat, tuan rumah, lingkungan dan budaya.

Menurutnya jika ada salah satu dari empat elemen tersebut tidak bahagia maka tidak bisa berkelanjutan. 

Sugeng beranggapan selama ini pariwisata di Desa Nglanggeran hanya sekedar tambahan, masyarakat tetap menjadi petani, peternak dan lainnya, karena dirinya tidak ingin kehilangan desa kami gara-gara pariwisata, tutup nya. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed