oleh

Menpora Amali Jadi Kunci Dalam Acara Kuliah Universitas Muhammadiyah

Biuus.com, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali menjadi pembicara kunci dalam acara Kuliah Wawasan secara daring bagi dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka dengan tema: “Membangun Nation Branding Melalui Komunikasi Olahraga dalam Meningkatkan Prestasi di Tingkat Global”, Selasa (29/3/2022) pagi.

Dalam kesempatan ini, Menpora Amali mengatakan bahwa, olahraga berperan penting membangun branding nasional dan Menpora Amali kemudian mencontohkan, ketika awal-awal kemerdekaan Indonesia, sangat terasa bahwa olahraga menjadi salah satu alat untuk menyampaikan kepada dunia tentang eksistensi dari Indonesia. Dan juga menjadi penentu pembangunan Sumber Daya Manusia yang baik dari sisi kebugaran dan maupun prestasi.

Ketika itu, Indonesia belum mendapatkan pengakuan dari banyak negara di dunia. Termasuk pada saat Indonesia ingin berpartisipasi mengikuti olimpiade 1948 di London. Jika Indonesia ingin berpartisipasi maka tidak boleh menggunakan Indonesia. Tetapi harus menggunakan nama Hindia Belanda.

“Jadi secara politik kegiatan olahraga sudah dikaitkan, bayangkan kita baru merdeka 1945, tetapi karena kita ingin menunjukkan eksistensi kita sebagai satu negara yang sudah terbentuk, maka kita ingin ikut olimpiade 1948. Tetapi mendapatkan penolakan karena ketika itu belum banyak negara yang mengakui kita. Boleh ikut tapi pakai nama Hindia Belanda,” ucap Menpora Amali.

Namun, pada saat itu, Soekarno atau Bung Karno yang menjadi pemimpin Indonesia tetap ingin menggunkan nama Indonesia walapun tetap ditolak. Pada tahun tersebut, Bung Karno menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama dalam negeri di Solo, tentu saja kegiatan ini bertujuan politis karena Indonesia masih belum mendapatkan pengakuan dari banyak negara.

“Tujuannya politis, tujuannya yakni untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu ada. Terbukti mampu melakukan suatu kegiatan olahraga yang diikuti oleh berbagai pemuda ketika itu yang berasal dari berbagai daerah,” ucap Menpora.

Seiring berjalan waktu, kegiatan tersebut kemudian tersiar di luar negeri, masyarakat dunia tahu bahwa Indonesia ditolak menjadi peserta olimpiade. Tetapi mampu menyelenggarakan kegiatan multi event nasional di dalam negerinya,” tambahnya.

Kemudian Indonesia mulai ikut serta dalam kegiatan Asian Games 1951 di New Delhi India dan juga ikut Olimpiade 1952 di Helsinki, Finlandia dengan tidal menggunakan nama Hindia Belanda melainkan Indonesia.

Baca juga: Menpora Amali dan Dispora DKI Bahas Persiapan DKI Jakarta Untuk Menerapkan DBON

“Kemudian tahun 1962, kita menjadi tuan rumah Asian Games. Bayangkan keberanian pemimpin waktu itu Bung Karno, dalam situasi negara yang baru merdeka, belum kuat-kuat amat dari sisi keuangannya, tetapi karena ini juga berdimensi politik. Maka Bung Karno berani mengajukan tuan rumah Asian Games,” ucap Menpora Amali.

Asian Games yang digelar pada 24 Agustus – 4 September tersebut diikuti oleh 12 negara. Hingga saat ini, masih menyisahkan sejarah dan peninggalan tempat-tempat venue yang ada di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta.

“Nah waktu itu pun kita bukan sekedar menjadi tuan rumah kemudian menunjukkan eksistensi kita ke duni. Bahwa negara ini ada, Indonesia itu ada. Tetapi kita menunjukkan bahwa kita juga mampu, kita sukses menjadi penyelenggara dan kita sukses untuk prestasi. Kita berada di peringkat kedua dengan perolehan 11 emas, 2 perak, 28 perunggu,” ungkap Menpora Amali.

Menurut Menpora Amali, Bung Karno juga pernah menyelenggarakan olimpiade tandingan yang bernama Games of The New Emerging Forces (Ganefo) karena saat itu Indonesia dikeluarkan dari keanggotaan International Olympic Committee (IOC).

“Ini dimensinya, dimensi politik. Jadi kegiatan olahraga untuk kepentingan bangsa menunjukkan eksistensi yang berdimensi politik,” jelas Menpora Amali.

kemudian Menpora Amali berbicara tentang olahraga di zaman Orde Baru yang berada dibawah kepemimpinan Soeharto. Menurutnya, Soeharto saat itu menjadikan olahraga sebagai sarana pembangunan. “Jadi kalau zaman orde lama itu sebagai sarana untuk menunjukkan eksistensi kita dimensi politiknya lebih kental. Maka pada saat orde baru olahraga ini untuk sarana pembangunan,” ucap Menpora Amali.

Indonesia berhasil meraih medali emas pertama kali di cabang bulu tangkis melalui pasangan Alan Budikusuma dan Susi Susanti pada tahun 1992. Menpora pun mengungkap bahwa bendera merah putih mulai dikibarkan di ajang olimpiade semenjak saat itu.

Baca juga: Kemenparekraf Gelar Workshop Foto dan Video Untuk Tingkatkan Konten Publikasi Berkualitas

“Indonesia Raya dikumandangkan, Bendera Merah Putih dikibarkan kira-kira hanya ada dua kejadian. Ketika kunjungan kenegaraan kepala negara dan ketika kita mendapatkan kan prestasi atau medali emas pada saat kegiatan olahraga,” ucap Menpora Amali.

Dalam waktu dekat, Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Para Games 2022 di Surakarta, Tuan Rumah FIBA Asian Cup 2023, Tuan Rumah FIFA World Cup U-20 tahun 2023, dan Tuan Rumah FIBA World Cup 2023, dan itu adalah langkah Indonesia untuk membangun nation branding ke tingkat dunia.

“Apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ini melihat betapa pentingnya olahraga untuk bukan hanya branding nasional. Tetapi juga kegiatan olahraga itu juga akan menjadi penentu pembangunan Sumber Daya Manusia baik dari sisi kebugarannya di hulunya maupun prestasi di hilirnya,” ungkap Menpora Amali.

Diantara langkah atas upaya tersebut, Kemenpora melakukan review total ekosistem keolahragaan nasional atas arahan Presiden Joko Widodo, dengan menyusun Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang disusun bersama para akademis, para praktisi, guru besar atau profesor ilmu keolahragaan di berbagai kampus dengan berbasiskan sport science, sport industry dan sport tourism. 

“Olahraga ini tidak hanya membranding negara, tapi juga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dari sport industri dan sport tourism,” pungkasnya.

judul gambar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.