oleh

DUKA NANGGALA DAN REORIENTASI PERTAHANAN NASIONAL

Oleh : Ode

Biuus.com, – Baru genap satu tahun Lockdown akibat pandemi di derita oleh masyarakat Indonesia, awal tahun ini berbagai musibah mengawali perjalanan negeri.

Mulai dari kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ – 182 pada 9 Januari lalu, longsor di Sumedang pada hari yang sama, menyusul Gempa Bumi di Mamuju Sulawesi Barat, sampai dengan Banjir Bandang di NTT.

Semua itu merupakan kejadian pembuka tahun yang menelan banyak korban dan menyimpan duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Belum selesai sampai di situ, Rabu lalu (22/4/2021) kita kembali di rundung duka akibat tenggelamnya Kapal Selam KRI NANGGALA 402. Kabar ini seakan menjadi garam bagi luka yang belum juga sembuh. Bukannya mengobati malah menambah perihnya luka dan duka.

Sejarah

Kapal Selam KRI NANGGALA 402, merupakan Kapal Selam buatan negara Jerman yang mulai beroperasi di Indonesia sejak Agustus 1981 (sumber : kompas.com).

Hampir 40 Tahun sudah kapal selam yang bernama sama dengan nama senjata sakti Raja – Raja dalam cerita Baladewa ini menjaga laut nusantara.

Kiprahnya dalam menjaga pertahanan maritim sudah banyak menoreh prestasi. Saat terjadi sengketa antara Indonesia – Malaysia di blok Ambalat, KRI Nanggala 402 ini menjadi pionir pemecah sengketa yang akhirnya memukul mundur pasukan negeri Jiran itu.

Tentu saja, berkat kelihaian dan keberanian para Armada yang mengoperasikan Kapal Selam ini tidak dapat di nafikkan. Sesuai dengan namanya “Korps Hiu Kencana” pasukan khusus operasi bawah laut itu memiliki mental dan kelihaian bagai Hiu di lautan lepas. Hanya dengan melihat bayangannya saja di bawah permukaan, cukup untuk membuat lawan mengangkat jangkar dan lari terbirit-birit.

Kini, seperti cerita Baladewa lainnya, KRI NANGGALA 402 menutup risalah panjangnya. Selama 40 Tahun menjaga laut nusantara, sampai akhirnya menutup riwayat di kedalaman laut pula.

Pecah dan tenggelam di kedalaman 600 – 850 meter di bawah permukaan laut.

Sebanyak 53 awak kapal yang gugur itu layak mendapat penghormatan dan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya dari seluruh masyarakat Indonesia. Jasa-jasa mereka akan di kenang sepanjang masa.

Respon Pemerintah dan Masyarakat Indonesia

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam konferensi persnya Rabu (22/4) lalu, menyampaikan kabar duka ini sembari menitikkan air mata.

Suasana haru biru menyelimuti konferensi pers yang biasanya berlangsung meriah. Sekaliber Panglima TNI, orang nomor 1 pasukan bersenjata, Sang Punggawa pertahanan nasional itu tak kuasa menahan duka ketika Kapal Selam KRI Nanggala 402 di pastikan tenggelam.

Segenap kekuatan dikerahkan agar jasad para pahlawan bawah laut itu di temukan. Tidak tanggung-tanggung, Pasukan Taifib beserta peralatannya di angkut menggunakan pesawat Hercules dari Batam ke Banyuwangi.

Beban seberat 6 Ton yang merupakan peralatan pasukan penyelam di terjunkan untuk mencari seluruh jasad awak kapal. Bahkan bantuan Internasional pun di kerahkan.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto juga menyampaikan ikut berbela sungkawa atas tragedi ini.

Beredar di Media Sosial, video Menteri Pertahanan tersebut menyambangi salah satu rumah duka dari keluarga awak kapal yang di tinggalkan untuk menyampaikan empatinya.

Terlihat dalam video tersebut, Sang Menteri itu memeluk salah satu keluarga korban dan ikut menitikkan air mata. Tindakannya yang datang langsung menemui keluarga duka di harap mampu menguatkan keluarga yang di tinggalkan dan menjadi penanda bahwa bukan hanya pihak keluarga yang di rundung duka, namun seluruh masyarakat Indonesia.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau akrab di sapa Jokowi juga tidak ketinggalan dalam menyampaikan dukanya dalam Konferensi Pers.

Di tengah kesibukkannya mempersiapkan dan memimpin jalannya rapat seluruh petinggi Negara ASEAN yang berlangsung Sabtu lalu (24/4/2021), Presiden Ke 7 Republik ini menyampaikan ikut berbela sungkawa dan meminta seluruh masyarakat Indonesia terkhusus keluarga yang di tinggalkan untuk tabah dan menguatkan diri. Bahkan beliau langsung yang memberi perintah untuk mengerahkan segenap tenaga agar menemukan jasad para awak kapal.

Selain video para petinggi Negara saat mengucapkan bela sungkawa itu, beredar pula video dari keluarga salah satu awak kapal KRI Nanggala 402 ikut menambah suasana haru di jagad sosmed +62. Terlihat dalam video tersebut seorang bocah merengek melarang ayah nya untuk keluar bertugas. Sang ayah yang di ketahui kemudian merupakan Lettu Imam Adi, merupakan salah satu awak kapal KRI Nanggala 402.

“Nggak – nggak” kata anak dalam video tersebut.

“Kenapa ga boleh keluar?” tanya seorang wanita yang merekam video tersebut dan merupakan istri dari Lettu Imam Adi.

“Ngga boleh.. di kancing (di kunci)” rengek si anak bersikeras melarang sang ayah bertugas hari itu.

Video ini kemudian di artikan oleh netizen sebagai firasat anak. Netizen berkomentar “mungkin anak itu memiliki indra ke enam”. Ada juga yang mengatakan “Firasat anak kecil yang masih suci, tidak mungkin salah”. Tetapi, terlepas dari ramainya komentar tentang video tersebut, masyarakat Indonesia semakin tersayat hatinya melihat rengekan anak kecil di video tersebut yang sekarang telah menjadi yatim.

Masa Depan Pertahanan Maritim Indonesia

Sebagai pos Kementerian pengguna APBN terbesar ke dua setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Pertahanan Republik Indonesia merogok 136,9 Triliun dalam RAPBN 2021 (sumber : CNBC Indonesia). 

Angka ini adalah angka yang fantastis dan terbesar sejak tahun 2016. Kementerian yang di komandoi oleh Letkol TNI (Purn) Prabowo Subianto ini menyampaikan perlu untuk menggunakan anggaran fantastis tersebut demi menjaga dan memperkuat pertahanan nasional, alokasi terbesarnya di prioritaskan untuk pengadaan dan modernisasi alutsista dan non alutsista.

Sebagai negara yang memiliki wilayah laut lebih besar di banding daratan, tidak heran jika Indonesia di sebut sebagai negara maritim terbesar di Asia. Luas wilayah lautan di Indonesia mencapai 3.257.357 Km² lebih luas di banding daratannya yang mencapai 2,01 Juta Km². Bapak Pendiri Bangsa ini, Soekarno pernah mengatakan “Indonesia adalah negara lautan yang di bubuhi pulau-pulau”.

Analogi Bung Karno itu di gunakan untuk menggambarkan betapa luas lautan yang di miliki oleh Negara kita. Sayangnya, kondisi saat ini, prioritas pertahanan bahkan konsentrasi pemerintah dalam setiap periode nampaknya belum berfokus pada pertahanan maritim.

Bagaimana tidak, sebagai Negara maritim terbesar di Asia, Indonesia hanya memiliki 5 kapal selam yang di tugaskan untuk menjaga wilayah maritim dari Sabang sampai Merauke (sumber : detik.com). Dikurangi KRI Nanggala 402, tinggal 4 kapal selam saja.

Tentu saja jumlah itu jauh dari kata cukup jika kita ukur dari luasnya lautan kita. Pos Kementerian yang merogoh 136,9 Triliun APBN ini haruslah memfokuskan untuk memperkuat pertahanan maritim Indonesia. Kapal – kapal selam yang sudah udzur sebaiknya mulai di pensiunkan. 

Kejadian tenggelamnya KRI Nanggala 402 tentu harus bisa di jadikan pengalaman (pahit) yang tidak boleh terulang. Faktor usia kapal, penulis kira juga merupakan faktor yang menyebabkan gugurnya para armada maritim kita. Karena itu, pembaruan Kapal Selam yang menjaga kedaulatan maritim NKRI kiranya wajib untuk di jadikan prioritas. Selain itu : modernisasi.

Unnamed Underwater Vehicle (UUV) adalah kendaraan yang beroperasi di bawah permukaan air (Kapal Selam) tanpa awak. Teknologi ini sudah di kembangkan sejak 2017 lalu. Negara – negara maju seperti Amerika, ataupun China sudah mulai mengoperasikan teknologi ini. Padahal, luas wilayah maritim di banding daratan ke dua negara itu boleh di kata tidak sebanding dengan Negara kita.

Universitas – universitas ternama Indonesia, diantaranya ada Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Surabaya (ITS) melakukan penelitian, merancang, bahkan mengembangkan teknologi UUV ini agar dapat beroperasi di perairan Indonesia. Apresiasi yang sangat tinggi kita berikan pada pusat – pusat keilmuan ini.

Dibanding menghabiskan 136,9 Triliun untuk belanja yang sebagian besar di gunakan untuk mengimport persenjataan dari luar, ada baiknya Menteri Pertahanan Republik Indonesia mengalokasikan sebagian anggaran fantastis itu untuk penelitan dan pengembangan yang sangat berguna bagi masa depan pertahanan maritim Indonesia. Kolaborasi dengan Kementerian Riset dan Teknologi yang sekarang sudah melebur dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bijaknya di lakukan.

Kesimpulan

Era sudah berubah, mengutip pernyataan Filsuf Harekleitos “Panta rhei kai uden menei” yang berarti semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tetap. Atau mengutip iklan keripik kentang “Live is Never Flat” Hidup tidak selalu datar.

Maka, kita menyadari sebagai sebuah kepastian bahwa kita hari ini tidak lah hidup di masa kemarin, dan tidak dapat pula memaksa hidup di masa depan.

Era KRI Nanggala 402 telah berakhir. Walaupun menyimpan duka yang begitu mendalam, namun hidup harus terus berjalan. Modernisasi segala sendi kehidupan merupakan kepastian di era ini, tidak terkecuali pertahanan maritim.

Sang Hiu Lautan Nusantara menutup era nya dengan sangat kesatria, 40 Tahun mempertahankan kedaulatan maritim dari dasar laut. Kini, pertahanan maritim kita harus kembali di perkuat dengan sokongan Ilmu Pengetahuan Ilmiah dan Modern.

Kita percaya bahwa kejayaan maritim kita adalah kejayaan bagi seluruh Negeri. Kuatnya maritim kita adalah kuatnya negeri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed